2008/12/03

Walikota dan Cucu





Walikota Tanjungpinang Dra Hj. Suryatati A Manan, bersama Cucu tercinta, (foto : Haris)

Anak Dari Pulau Ke Pulau


Kebiasaan anak-anak di pulau, di wilayah Propinsi Kepulauan Riau, Usai pulang sekolah biasanyanya mereka berlari ke Pelantar untuk bermain bersama teman-temannya, dan menunggu waktu air pasang tiba, baru mereka menceburkan diri ke dalam laut,terus berenang kian kemari atau sekedar bermain-main sampan, sembari membantu orang tuanya untuk memperbaiki bubuh, atau jaring yang bakal dipergunakan oleh orang tuanya menagkap ikan.


Anak Pulau, ini sedang mengayuh biduk, menuju ke pantai harapan cita-cita, (foto : Haris)

2008/12/01

Istana Kota Piring, Jarang di Ziarahi Wisatawan




Jejak Peninggalan kejayan Istana Kota Piring, yang terdapat di Kelurahan Melayu Kota Piring, Selasa (2/12) (foto : Haris.


Objek wisata sejarah yang satu ini memang megah di zamannya, sehingga Raja Ali Haji bertitah kepada rakyatnya untuk mengumpulkan piring-piring agar dijadikan hiasan Istana, maka sejak itu, Istana tersebut dikenal dengan sebutan Istana Kota Piring, Namun kini sejarah itu tinggal sejarah, tiada upaya untuk mempromosikan situs sejarah itu, atau dikarenakan puing-puing istana itu kini sudah berbaur dengan rumah penduduk ? semoga pihak dinas pariwisata dan kebudayaan kota Tanjungpinang berkeinginan untuk memugar peninggalan situs sejarah itu.

Dampak Krisis Global


Pangkalan nelayan di Kijang, Kabupaten Bintan, puluhan perahu nelayan yang harus parkir tidak melaut akibat krisis global.Selasa (2/12) (Foto : Haris)


Krisis Global yang melanda dunia saat ini, kini sudah dirasakan dampaknya hingga ke belahan dunia Propinsi Kepri, hal itu ditandai dengan naiknya harga kebutuhan hidup sehari-hari, tidak terkecuali para nelayan di Kijang yang agak sulit untuk membeli perbekalan untuk melaut, kendatipun Pemerintah Indonesia telah mengabilkan kebijakan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak, sebesar 20%, termasuk harga solar, karena bahan bakar itu sangat dibutuhkan oleh nelayan untuk melaut, namun kondisi tersebut juga tidak membantu banyak bagi para nelayan untuk keluar dari kesulitan ekonomi.

Hewan Qurban



Sejak Kota Tanjungpinang di Tetapkan menjadi Ibu Kota Propinsi Kepulauan Riau, tidak sedikit permintaan hewan qurban, setiap tahunnya, kendatipun hewan qurban tersebut harus didatang dari luar pulau, seperti apa yang dilakukan oleh salah seorang saudagar Lembu bernama Pak Agus (47), yang berlokasi di KM 6 Tanjungpinang ini. Dia Mengaku kalau hewan qurban, seperti halnya Sapi, harus didatangkan dari pulau Madura, sedangkan kambing juga harus didatangkan dari Jambi,sedangkan harga jual untuk seekor sapi berkisar 8 juta sampai dengan 8,5 juta rupiah, sedangkan untuk seekor kambing yang sudah tumbuh tanduknya dan siap untuk dijadikan hewan qurban atau aqiqah, harga seekornya sebesar 1,2 juta sampai dengan 1,6 juta rupiah.


Hewan qurban, yang membanjiri Kota Tanjungpinang, menjelang Hari Raya Idul Adha, Selasa (2/12) (foto : Haris)